Refarming 4G di Periode Chief RA

Teknologi seluler generasi ke generasi

Jaringan 4G kini menyelimuti wilayah di Indonesia, hal ini menjadi salah satu pencapaian keberhasilan yang diraih pada masa kepemimpinan Rudiantara sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi. Di era sebelumnya, banyak keluhan terkait lambatnya jaringan internet di negeri ini, tetapi melalui program refarming ke jaringan 4G yang dilakukan Chief RA, permasalahan tersebut berangsur terselesaikan.

4G yang merupakan kepanjangan dari Fourth Generation Technology atau yang diartikan sebagai generasi keempat teknologi seluler. Sebagaimana namanya, teknologi ini adalah pengembangan dari generasi-generasi sebelumnya yakni 2G dan 3G.

Generasi pertama dari teknologi ini biasa disebut 1G adalah generasi analog, dimana hampir seluruh sistem yang dijalankan adalah sistem analog dengan kecepatan rendah dan menjadikan suara sebagai objek utama dalam berkomunikasi. Contoh dari penggunaan teknologi 1G adalah AMPS (Analog Mobile Phone System). Teknologi ini mengalami pengembangan dengan adanya 2G dengan format digital. Kecepatan yang dapat digunakan dengan 2G menjadi kecepatan menengah hingga mencapai 150 Kbps. Pada generasi ini, layanan berbasis data yang digunakan seperti GPRS (General Packet Radio Service), dan EDGE (Enhance Data rat for GSM Evolution) pada GSM dan PDN (Packet Data Network) pada domain CDMA.

Pada perkembangannya, generasi 2G digantikan oleh 3G yang memiliki kecepatan data high speed hingga mencapai 14,4 Mbps. Perbedaan antara 2G dan 3G adalah pada aplikasi multimedia yang dapat digunakan. Teknologi High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) adalah teknologi yang digunakan pada 3G yang kemudian menjadi jalur evolusi untuk jaringan Universal Mobile Telecommunication System (UMTS).

Teknologi 4G sebagai solusi yyang komprehensif agar suara, gata, dan arus multimedia dapat diakses pengguna dimanapun dan kapanpun dengan sistem IP yang terintegerasi penuh dengan kecepatan yang dihasilkan jauh melebihi generasi-generasi sebelumnya. Terdapat dua stanfar 4G yang dikomersialkan di dunia yakni WiMAX yang dikembangkan Korea Selatan, dan Long Term Evolution (LTE) di Swedia.

4G di Indonesia

Di dunia 4G LTE memegang peran penting dalam era Internet of Things (IoT), termasuk di Indonesia. Kementrian Komunikasi dan Informasi di era Rudiantara melakukan refarming untuk menata industri  telekomunikasi di Indonesia agar lebih efisien sehingga konsumen dapat menikmati lyananan telekomunikasi yang lebih baik. Refarming atau tata ulang jaringan ke 4G dilakukan secara bertahap dengan dimulai di frekuensi 1.800 Mhz yang rampung pada November 2015. Kemudian diterbitkannya Peraturan Menteri (Permen) terkait penggunaan jaringan 4G di frekuensi 2.100 Mhz.

 Melalui refarming ini akses internet di Indonesia akan semakin merata hingga daerah tertinggal, terpencil, dan terluar sehingga mendorong produktivitas masyarakat. Menteri Rudiantara dalam Lomba Posting Konten Positif Antar Nitizen yang diselennggarakan oleh Kementriannya menyampaikan pada 2016 jaringan 4G coverage 51,91% jumlah pemukiman, dan melonjak drastis pada 2018 menjadi 95,84% luas pemukiman yang mendapat fasilitas 4G. Salah satu manfaat yang dihadirkan melalui jaringan 4G LTE yaitu bertumbuhnya ekonomi digital di Indonesia dengan berputarnya.

Kebijakan yang tepat dilakukan oleh Chief RA dalam mengatasi tantangan yang dihadapinya saat awal menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, bukan hanya menaklukan tantangan tersebut, tetapi juga membawa Indonesia berkembang pesat dalam perkembangan digital saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *