Dilema Frekuensi 5G di Indonesia

Indonesia sedang bersiap menghadirkan 5G, Indonesia pun memiliki tiga frekuensi yang disiapkan untuk bisa menghadirkan 5G, yaitu pada 3,5GHz, 26GHz atau 28GHz.
Menurut data GSMA frekuensi di bawah 1GHz akan mendukung cakupan luas di seluruh daerah perkotaan, pinggiran kota dan pedesaan, serta membantu mendukung layanan IoT.


Untuk 1-6GHz, menawarkan cakupan dan manfaat kapasitas yang cukup baik. Ini termasuk spektrum dalam kisaran 3,3 – 3,8GHz, yang diharapkan dapat membentuk basis dari banyak layanan awal 5G.
Adapun di atas 6GHz, diperlukan untuk memenuhi kecepatan broadband kecepatan tinggi yang diharapkan untuk 5G. Fokus pada frekuensi ini akan berada di atas 24GHz atau 28GHz. Selain itu juga ada beberapa minat mengeksplorasi frekuensi dalam kisaran 6-24GHz.


Menurut Dirjen Sumber Daya Penyelenggara Pos dan Informatika (SDPPI) Kemkominfo, Ismail MT, ketiganya merupakan pilihan spektrum frekuensi untuk teknologi 5G yang sudah disepakati dunia.
Tujuan 5G memiliki kegunaan untuk berbagai hal penting, seperti layanan yang membutuhkan latency atau delay yang rendah. jangan sampai komunikasi di layanan itu terjadi delay.
pemanfaatan teknologi 5G kemungkinan besar akan dimulai dari industri 4.0. Industri 4.0 merupakan nama tren otomatisasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi manufaktur. Hal ini mencakup sistem Internet of Things (IoT), cloud computing dan komputasi kognitif.


terdapat beberapa tantangan yang harusFrekuensi 2,6 GHz masih digunakan oleh satelit Indovision SES7 untuk penyiaran. Kedua, belum ada konvergensi antara bisnis penyiaran dengan bisnis telekomunikasi.


jaringan 5G yang digelar hanya mencangkup kawasan-kawasan tertentu yang tidak tercangkup oleh satelit. Adapun jika masyarakat ingin mendapat manfaat sepenuhnya dari frekuensi 3,5Ghz, mereka harus menunggu hingga kontrak frekuensi satelit habis.


bisa menggunakan 3,5 Ghz tetapi di daerah yang tidak tercangkup oleh satelit Extended C, nah kebanyakan [Extended C] tidak digunakan di Pulau Jawa.


Salah satu skenario yang dapat dilakukan dalam berbagi frekuensi adalah dengan membagi wilayah operasional frekuensi. 5G yang membutukan kapasitas besar dari serat optik dapat digelar di perkotaan, sedangkan satelit dengan cangkupan yang luas tanpa harus menggelar kabel, seharusnya dapat memberi pelayanan di daerah rural atau pedesaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *