Keluhan Pelanggan Firstmedia di Tengah Hari Konsumen Nasional

Jefry pemilik akun twitter @JF897 meluapkan kekesalan nya  kepada Firstmedia melalui akun twitter nya dia meminta untuk memnerikan sanksi kepada firstmedia karena telas merugikan nya karena sudah 30 jam lebih layanan internet firstmedia mati menyusahkan saat harus Work From Home (WFH) dan Belajar dirumah sudah banyak di complaint namun tidak tanggapan dari pihak first media.

Selain Jefry ada juga Sakina Selviana pelik akun twitter @selvianasakina yang juga menyampaikan kekecewaan kepada firstmedia “ Hari ke 3 #FirstMediaDown Kapan,selesainya kaka kaka firstmedia??,lagi stay at home mau beli kuota banyak gaada pemasukan nih” keluh nya dimedia sosial twitternya.

Gangguan Internet seperti ini tidak hanya dialami oleh kedua pelanggan firstmedia di twitter itu, keluhan sama yang berasal dari berbagai daerah yang ditujukan pada firstmedia, ramai bertebaran di twitter. Gangguan yang dibarengi dengan informasi kepada pelanggan yang minim, bahkan nihil.

Salah satu akun resmi milik firstmedia, @firstmedia, membenarkan telah terjadi gangguan. Di salah satu cuitannya, ia mengatakan bahwa “Hi First People,Mohon maaf ,saat ini sedang ada gangguan dalam proses modem provisioning(sistim pengaturan penyediaan layanan modem) yang berdampak hanya kepada layanan internet(TV tidak bermaslah),sehingga peringkat tidak dapat terkoneksi ke jaringan internet.”

terputusnya koneksi internet jelas merugikan konsumen. Konsumen khususnya pelanggan internet di Indonesia dilindungi payung hukum. Pertama, Undang-Undang (UU) Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Kedua, Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi.

Pada UU perlindungan konsumen, secara umum mengatur kaidah bahwa tanpa memandang jenis barang/jasa yang dibeli/dilanggan, konsumen dilindungi Pasal 4 huruf (b) yang berbunyi “hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan. ”Artinya pelanggan atau konsumen wajib diberikan produk/jasa yang sesuai dengan apa yang telah dibayar kepada perusahaan penyedia. Saat koneksi terputus, dalam konteks berlangganan internet, maka sama saja ada ketidaksesuaian antara yang dibeli dan didapat. Apalagi layanan internet termasuk TV berbayar yang disediakan provider umumnya memakai tarif paket per bulan yang besarannya sudah ditentukan dan waktu pembayaran dengan jatuh tempo.

Pada permasalahan ketidaksesuaian semacam itu, dalam UU perlindungan konsumen, pada pasal 7 huruf (f) dan (g) disebutkan bahwa perusahaan penyedia barang/jasa “memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian atas kerugian akibat penggunaan, pemakaian dan pemanfaatan barang dan/atau jasa yang diperdagangkan. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan perjanjian.

“Pasal 23 UU perlindungan konsumen secara tegas mengatur bila pelaku usaha yang menolak dan/atau tidak memberi tanggapan dan/atau tidak memenuhi ganti rugi atas tuntutan konsumen, maka dapat digugat melalui badan penyelesaian sengketa konsumen atau mengajukan ke badan peradilan.” jelas Al Akbar Rahmadillah founder Sobat Cyber Indonesia

Pada UU telekomunikasi, sebagai payung hukum khusus yang mengatur telekomunikasi, juga diatur hal yang tak jauh berbeda. Pada pasal 15 ayat 1 UU No 36 tahun 1999, mempertegas soal ganti rugi yang disebabkan oleh kelalaian penyedia jasa. Pada ayat lanjutan pasal itu, ganti rugi bisa tidak dikeluarkan saat perusahaan penyedia jasa bisa membuktikan bahwa mereka bukan penyebab kerugian yang dialami pelanggan. Penyelesaian ganti rugi dapat dilaksanakan melalui proses pengadilan atau di luar pengadilan (mediasi) seperti diatur dalam PP No 52 tahun 2000 tentang penyelenggaraan telekomunikasi.

Persoalan kurangnya informasi yang diberikan pihak perusahaan penyedia jasa hanya sejumput masalah dari hak konsumen yang terabaikan. Belum lagi soal hak pengguna terhadap barang/jasa tak sesuai dari yang telah dibelinya. Konsumen memang bisa meminta ganti rugi, termasuk melalui pengadilan tapi jadi penyelesaian yang panjang. Ihwal semacam ini tak perlu terjadi bila penyedia jasa/barang tak mengabaikan hak-hak konsumen.Namun, pada dasarnya konsumen punya hak untuk menuntut pihak penyedia jasa bila merasa dirugika,apalagi disaat pandemi covid-19 saat ini ketika semua orang harus melakukan semua aktifitas dirumah dan menggunakan jaringan internet.

“Kami dari Sobat Cyber Indonesia akan terus mengawal dan juga akan menyurati Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia terkait perlindungan konsumen yang telah di rugikan karena terputusnya jaringan internet yang disediakan oleh firstmedia milik PT Link Net Tbk lebih dari 1×24 jam.” Pungkas Akbar dengan Tegas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *