Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan Saat Covid-19

Sejak menyebarnya Covid-19 di dunia, banyak sektor yang harus menyesuaikan aktivitasnya. Selama ini dilakukan secara tatap muka, kini berubah menjadi dengan cara jarak jauh. Pemerintah pun telah mengeluarkan himbauan agar masyarakat mulai bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di rumah sebagai upaya memotong rantai penyebaran virus.


Dunia pendidikan sebagai salah satu sektor yang terdampak pun mulai menyesuaikan pembelajaran yang selama ini dilakukan secara tatap muka di dalam kelas, kini menjadi pembelajaran daring. Seperti yang disampaikan Dirjen Dikti Kemdikbud, Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D bahwa sejak tanggal 9 Maret 2020 Kemdikbud mengeluarkan Surat Edaran kepada sekolah dan perguruan tinggi yang berisi Study from home khususnya yang berada di wilayah terpapar.


“Sejak tahun 80an sudah dikembangkan ide untuk pembelajaran jarak jauh tetapi terjadinya pasang surut dalam mewujudkannya, pada tahun 2015 dengan program Spada (Sistem Pembelajaran Daring) sebagai platform untuk perguruan tinggi berbagi pengetahuan, modul, dan perkuliahan.” Ujar Nizam

“Perguruan tinggi yang belum memiliki sistem sendiri dalam pembelajaran daring, platform spadan yang disediakan Kemdikbud ini dapat digunakan selama pandemi. Selain sharing modul dan bahan ajar, platform ini juga menyediakan link yang terhubung dengan sumber pembelajaran internasional seperti Harvard, dan lainnya secara gratis.” Prof Nizam menjelaskan saat Webinar yang diselenggarakan Sobat Cyber Indonesia melalui chanel Youtube.

Selain Kemdikbud yang berusaha untuk memfasilitasi para peserta didik agar tetap mendapatkan pembelajaran selama pandemi Covid-19, universitas-universitas pun berusaha mengembangkan model pembelajarannya secara daring salah satunya UG viclass yang dikembangikan Universitas Gunadarma.
Prof. Dr. E.S Margianti, S.E., M.M selaku Rektor Universitas Gunadarma menjelaskan “Di Universitas Gunadarma dapat dikatakan semua kegiatan pembelajaran sudah dialihkan melalui perangkat digital, baik untuk mahasiswa D3 hingga S3”


Digital Transformation di dunia pendidikan dipercepat untuk menyesuaikan keadaan seperti saat ini. Berdasar survey Asosiasi IOT Indonesia pada tahun 2017 dengan melihat 5 pilar yaitu konektivitas, kemampuan masyarakat membayar, kemampuan menggunakannya, pengembangan konten lokal yang sesuai kebutuhan, dan keamanan.


Teguh Prasetya yang merupakan Ketua Umum ASIOTI menjelaskan hasil survey bahwa “sebesar 50% masyarakat Indonesia siap dalam penerapan digital di Indonesia pada tahun 2017. Diharapkan dengan penetrasi internet yang lebih banyak saat ini membuat masyarakat Indonesia semakin siap”
“Kunci keberhasilan dalam mendorong penertrasi digitalisasi di Indonesia yaitu kaloborasi antara pemerintah, operator, akademisi, media, dan publik” tambah Teguh.


Covid-19 selain memberikan dampak negatif sebagai bencana, tetapi perlu juga dilihat sebagai momentum pengembangan pelayanan digital di Indonesia. Diharapkan ketika pandemi ini berlalu, terjadinya peningkatan pemanfaatan digital dan internet yang membawa pada perkembangan Indonesia lebih baik. (YSN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *